Cukup Tersenyum

Renungkan tentang apa yang kurasakan
Merasa jauh dari kenyataan
Tersingkir di kehidupan
Tanpa kata…
Tanpa suara…
Menjadi hampa begitu saja

Kuharap kau datang
Walaupun takkan mengubah segalanya
Setidaknya ada pelipur lara
Secercah harapan untuk tersenyum
Sedikit air untuk kuteguk
Atau segenggam bara yang hangat

Lirik lirih terdengar menyakitkan
Tapi begitulah yang kurasakan
Tanpa banyak berkata

Aku lelah membicarakan hari
Berganti dan berganti
Kapan aku diberikan luang?
Setidaknya untuk sekedar merebahkan badan
Atau terlalu mustahil untuk beristirahat?

Lelah sekali… letih sekali…
Dum… di… dam… di… du…
Memainkan nada datar
Dan aku harus lebih semangat

Dum… di… dam… di… du…
Semua terasa sama
Hanya nada datar kudendangkan
Bergumam…
” Kapan ya, kehidupan kembali waras?
atau dunia seterusnya menggila?”

Dum… di… dam… di… du…
Aku menutup pembicaraan ini
Dengan nada yang datar
Mungkinkah hati masih bertanya?
Cukup tersenyum…
Mungkin itu jawabnya

Iklan

3 pemikiran pada “Cukup Tersenyum

  1. Di bagian awal udah bagus. Kata-katanya ngalir. Kalo aja lo bisa pertahanin rangkaian itu sampe akhir, gw yakin puisi lo bakal menghanyutkan sampai akhir. Gw baru mulai asik baca, ternyata ada dum.. di.. dam.. di.. du.. kenyamanan gw membaca jadi terusik. Saran gw sih kalo mau bergumam mending pakai ungkapan, ga perlu diutarakan langsung. Kalau pun mau diungkapkan, carilah kata yang nyaman untuk dibaca. Satu lagi, gw agak terganggu juga sama kata “menutup” di bait terakhir. Ke depannya, gunakan diksi (pilihan kata) yang pas. Okeh vad? Yuhu, keep on writing. Learning is a process.

Ada tanggapan?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s