Kanvas

Kanvas itu tergeletak begitu saja
Ada seulas warna indah
Hijau, biru, merah
Berbaur dengan ceria
Seolah ada kesempurnaan yang ditemukan
Seperti mimpi yang ditemui di kenyataan
Ada guratan hitam berhamburan
Bercak merah dan kelabu tak beraturan
Ada luka yang berusaha tersenyum
Goresan yang ingin merobek warna itu
Namun goresan itu tak ada yang menyentuh satupun warna
Hanya sedikit sebagai penegas tanda suatu kebencian
Tapi tak pernah berani mengutarakan

Kanvas itu tergeletak sendiri
Hanya aku yang menatapnya sedih
Apa yang aku lakukan dengan kanvas itu?
Padahal dulu ia begitu putih dan hanya ada warna cerah
Apa yang aku lakukan pada kanvas itu?
Seolah tak percaya kanvas itu adalah gambaran hatiku
Dan tak ada yang percaya siapa warna indah itu

Suara hati terdengar begitu parau
Memanggil namamu sebagai warna indah itu
Apa yang harus kuperbuat pada hatiku?
Aku hanya menatap kembali kanvas itu
Inikah kenyataan saat kumendambakanmu?
Tak pernah kukira sejauh ini jadinya
Sesungguhnya aku tak pantas lagi menaruhmu
Namun aku enggan mengganti warnamu yang tertuang di kanvasku
Tak ada yang mampu menandingi perasaan itu

Jika kau terpanggil lewat mimpimu malam ini
Jika aku hadir di sana dan memberimu ruang di hati
Kumohon kau hadir kembali
Jadilah warna cerah di kanvasku
Biarkan hitam itu pudar sendiri
Kumohon jadilah kau sebagai kekasih
Dan kanvas itu takkan ternilai lagi
Dan sakit hatiku tak akan kuingat lagi

Iklan

Satu pemikiran pada “Kanvas

  1. Hm.. Menurut gw, diksi atau pilihan kata pada puisi yang satu ini udah cukup baik. Tapi ada beberapa kata yang kalo diganti, gw rasa bisa lebih enak untuk dibaca. Misal : kumendambakanmu > kumendambamu , dll. Dari semua bait, bait terakhir yang paling berkesan. Kenapa? Menurut gw sih karena tiap baris di bait itu punya rasa. Mereka unik, mereka orisinal, mereka menggambarkan, dan gw rasa puisi lo bahkan baru mulai gregetnya pas akhir. Ga dapet klimaksnya. Ga dapet momen di mana orang terpana melototin monitor karena puisi lo. Kalau ngutip kata fotografer, momentum itu penting. Kata gw sih words have power. Kata-kata punya kekuatan. Dari mana kata itu punya kekuatan? Dari momentum =) Hhe.. Gak jelas? Coba cari arti kata momentum. Bukan momen gaya di fisika loh vad. Hhaha

    =D Udah ah, komen gw kayak dah pakar aje. Keep writing man! Tulisan lo tambah bagus. Itu tandanya lo berproses.

Ada tanggapan?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s