Sedikit Renungan Tentang Puisi

Setelah saya memublikasikan Jangan Ada Malam Semu, saya menyempatkan diri untuk blog walking. Saya menemukan tulisan yang menarik di blog ini. Membahas mengenai puisi. Sebuah tulisan yang sangat bagus. Tulisan tersebut menyertakan butir-butir yang layak untuk direnungkan sebagai introspeksi diri:

  1. Perjalanan perpuisian Indonesia sejak abad ke-20, sejak ia mencoba lepas dari tradisi lisan, sesungguhnya tak pernah benar-benar bergerak sebagai sebuah disiplin yang membina dasar-dasarnya sendiri secara kukuh.
  2. Hukum tertinggi yang dipeluk erat-erat dan tak dapat diganggu-gugat adalah licentia poetica: hak mutlak penyair untuk menggunakan bahasa sebebas-bebasnya, termasuk menyimpang dari tata pembentukan kata atau kalimat yang lazim bila perlu.
  3. Bergantung pada gairah dan bakat (maupun kenaifan) masing-masing penyair, puisi menjadi semacam lahan bebas (bahkan liar) yang tak menyediakan perangkat khusus yang jelas dan memadai menyangkut penciptaannya.
  4. Puisi Indonesia berjalan hampir tanpa mengenal prosodi, misalnya disiplin yang mendalami anatomi puisi menurut metrum, ritme, rima itu.
  5. Ketiadaan pendalaman atas anatomi puisi, bisa dilihat sebagai hikmah yang mungkin menyelamatkan penyair dari kesibukan berlebih terhadap tetek-bengek yang terlalu teknis dalam merangkai karya.
  6. Semenjak sajak bebas muncul pada abad ke-19, metrum menjadi sesuatu yang tampak kian mengekang dan merepotkan dan karenanya disingkiri jauh-jauh.
  7. Tanpa metrum, sajak bebas seharusnya melahirkan musiknya sendiri-sendiri. Sajak-sajak bebas yang unggul telah membuktikan hal itu.
  8. Tapi tanpa metrum, sajak bebas juga kemungkinan bisa celaka akibat miskinnya latar pemahaman dan penguasaan akan kompleksitas puisi, dan yang lahir adalah sajak yang tak mempertimbangkan kekuatan setiap unsurnya sebagai pembangun sebuah komposisi yang mantap.
  9. Puisi yang tak memiliki kesadaran bentuk yang memadai, dan hanya meluncur ringan tanpa beban (selain beban pesan), tapi juga tanpa kekokohan, hanya gairah yang menggebu-gebu tapi bisa tanpa arah.

Ya, saya setuju dengan semua butir tersebut. Sekadar menambahkan opini, puisi bukanlah sebuah bentuk terikat yang bersandat pada teknis. Siapapun bebas menciptanya. Ia bebas, liar, bertumbuh, makan dari apapun, takkan berteduh walau hujan, akan tetap berlari walau panas. Jangan kurung ia dengan kotak. Jangan paksa letakkan di atas tatak. Ia kini tertidur di Indonesia.. Kamukah orang yang akan membangunkannya?

Iklan

5 pemikiran pada “Sedikit Renungan Tentang Puisi

  1. @baderiani

    Yah, pak.. Kan saya udah bilang di atas.. Butir-butir tersebut hasil dari blogwalking. Em.. mungkin tepatnya puisi modern. Puisi modern memang mencoba lepas dari segala aturan yang ada. Rima dan segala macamnya dianggap menjadi pengganggu yang menghambat maka mulai ditinggalkan. Lahirlah puisi modern sebagai media ekspresi yang bebas.

  2. Butir-butir ini pendapat kamu sendiri ato…????
    Semenjak sajak bebas muncul pada abad ke-19, metrum menjadi sesuatu yang tampak kian mengekang dan merepotkan dan karenanya disingkiri jauh-jauh. => Ternyata puisi jaman sekarang juga mengikuti tyrend dunia yang pingin nya tidak merepotkan and freedom. :P….

  3. dapet dari mana nih tulisan to?

    tpi bener juga, gw setuju banget sama butir 7, 8, 9

    pwertama gw bikin puisi, gw nyoba terpaku ama yang namanya tuh rima, baris dan bait, bahkan beberapa puisi gw yang dulu cenderung dipaksakan biar pas aja untuk didenger tanpa peduli apa itu sebuah alur

    tapi semenjak SMA, gw nyoba beli buku kumpulan puisi, dan di situ gw tersentak, bahkan dalam bentuk puisi yang ditulis oleh penulis yang gw baca, ternyata dia sama sekali ga punya keteraturan dalam menyusun kata, bahakan cendrung memakai gaya bahasa seenaknya, tapi kekuatan dan rasa puisi yang dia bikin malah lebih kental, walaupun susah juga ngertinya

    Udah baca puisi membling belom? itu puisi paling bebas menggunakan gaya bahasa yang pernah gw baca, bahakan hanya menggunakan simbol dalam beberapa puisi yang dia buat, heheh gw sendiri juga ga ngerti apa maksud si penulis

    Btw, tantangan lw untuk menumbuhkan puisi dan membiarkanya berlari tanpa mengurungnya dalam kotak, hmmmhh, gw bakal terima. Orang yang mencoba membangun dunia puisi di Indonesia, hehehe, tapi yang lebih penting, gw harus berhasil juga menjadi seorang akuntan, hehehe

    sekian

Ada tanggapan?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s