When Love Isn’t There (My Reflection..)

love featured

Akhir-akhir ini, gw akhirnya sampai pada suatu titik kritis dalam hidup gw dimana gw mempertanyakan semua hal. Apa yang bener-bener ngebuat gw seneng? Apa hal yang bener-bener bisa gw kerjakan dengan baik? Ke arah mana jalan hidup gw harus mengarah? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.. Semuanya terus berputar di kepala gw.

Sebenernya jawaban-jawaban teoritis dari sudut pandang agama untuk semua pertanyaan itu gw udah tau sejak lama. Tapi kali ini gw sampai pada satu titik dimana gw bener-bener merasakan sendiri bahwa percaya dan iman adalah dua hal yang sangat berbeda. Gw tau bahwa seharusnya hidup gw bukan gw arahin untuk memuaskan keinginan gw, tapi keinginan sang Pencipta gw. Gw tau bahwa gw harus meminta arahan dari sang Pencipta mengenai hal apa yang sebenernya bakat gw dan bahwa masa depan itu bukan hak gw untuk bertanya mengenai hal itu. Gw sendiri tau, ada keinginan di dalam tubuh gw yang fana ini untuk ga menuruti hal ini dan ngambil jalan enak buat diri sendiri. Gw juga bukannya ga tau kalau hal-hal ini terjadi karena tubuh dan Roh ga pernah sejalan. Tubuh pengennya ngelakuin hal-hal enak, hal-hal instan yang ujung-ujungnya ngebawa sengsara sementara Roh membawa kita kepada kekekalan. Semua konsep ini, semuanya ada dalam otak gw dan sebenarnya tinggal gw hidupi setiap hari..

How do you love when love isn’t there?

Malam itu, waktu gw curhat sama Tuhan, gw bilang bahwa gw sebenernya tau bahwa kebahagiaan itu pilihan.. Tapi kenapa begitu susah untuk memilih menjadi bahagia? Dan yang paling penting, bagaimana caranya? Gw bener-bener ga punya petunjuk saat itu. Gw juga curhat tentang hal-hal yang harus gw kerjakan walaupun gw ga suka. Lalu tiba-tiba gw teringat kata-kata ini:

But how do you love when you don’t love?

Itu adalah kutipan kalimat dari buku “The 7 Habits of Highly Effective People” yang dikutip lagi oleh Tuhan untuk memperluas cara gw berpikir malam itu. Gw udah baca kalimat itu sebelumnya, di buku itu, perntanyaan itu diajukan oleh seorang pria yang tidak lagi mencintai istrinya dan berpikir untuk bercerai namun khawatir dengan nasib anak-anaknya. Dia menyatakan hal itu kepada Stephen R. Covey, sang penulis buku, untuk meminta petunjuk mengenai apa yang harus dia lakukan. How to love her? Inilah kutipan percakapan mereka:

“Stephen, I like what you’re saying. But every situation is so different. Look at my marriage. I’m really worried. My wife and I just don’t have the same feelings for each other we used to have. I guess I just don’t love her anymore and she doesn’t love me. What can I do?”

“The feeling isn’t there anymore?” I asked.

“Thafs right,” he reaffirmed. “And we have three children we’re really concerned about. What do you suggest?”

“Love her,” I replied.

“I told you, the feeling just isn’t there anymore.”

“Love her.”

“You don’t understand. The feeling of love just isn’t there.”

“Then love her. If the feeling isn’t there, that’s a good reason to love her.” 

“But how do you love when you don’t love?”

“My friend, love is a verb. Love—the feeling—is a fruit of love, the verb. So love her. Serve her. Sacrifice. Listen to her. Empathize. Appreciate. Affirm her. Are you willing to do that?”

Begitu gw diingatkan mengenai percakapan ini, gw mendadak ngerti maksud dari kata-kata itu.  Pikiran gw mendadak terang-benderang.. Semuanya yang harus gw lakukan mendadak jadi sejelas matahari di siang bolong. Gw ga harus melakukan hal-hal yang gw bener-bener cintai untuk merasa bahagia, yang harus gw lakukan adalah menumbuhkan perasaan cinta terhadap apa yang gw lakukan. Love—the feeling—is a fruit of love, the verb. So love her. Serve her. Sacrifice. Listen to her. Empathize. Appreciate. Affirm her. Are you willing to do that?(Perasaan cinta adalah buah dari cinta sebagai sebuah kata kerja. Jadi layani dia, berkorban untuknya, dengarkan dia, berempatilah, hargai, kuatkan dia. Apakah kamu bersedia melakukannya?)

Kalau gw inget-inget lagi dan gw refleksi lagi seluruh hidup gw, gw merasa sangat kecil.. Walaupun Tuhan telah begitu baik sepanjang hidup gw, banyak kali gw buat Tuhan kecewa. Fakta bahwa Tuhan ga ninggalin gw, bahkan ngasih gw hikmat lebih untuk terus maju dalam menjalani masa kritis ini bener-bener ngebuat gw merasa sebagai ciptaan yang dianggap sangat spesial, terlepas dari semua hal yang gw laukan di masa lalu..

Malam ini, satu lagi kesadaran yang Tuhan tunjukin ke gw: Semua orang, termasuk gw, punya potensi untuk jadi orang yang sangat besar. Ketika gw bertanya, minta petunjuk Tuhan untuk ngasih tau arah mana yang harus gw ambil, gw dikasih arah untuk mengambil pekerjaan yang sekarang ini. Melalui pekerjaan ini, Tuhan sekali lagi menjunjukkan bahwa Dia kenal gw lebih dari gw kenal diri gw sendiri.. Dia tau, bahwa gw punya masalah dalam berkomitmen melakukan hal-hal sehingga Dia membentuk gw melalui ikatan kontrak dengan perusahaan ini. Semoga setelah selesai ikatan kontrak ini, gw udah lebih siap untuk jadi orang yang lebih besar dari gw yang sekarang.. Walaupun gw ga tau dengan jelas arah ke depan seperti apa, gw mengimani dengan sungguh bahwa Tuhan selalu menyertai dan bahwa Dia hanya sejauh doa..

Iklan

2 pemikiran pada “When Love Isn’t There (My Reflection..)

Ada tanggapan?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s