Prolog Novel (Proyek National Novel Writing Month)

Hai, nama gue, Budi. Nama panjangnya, Budi. Udah gitu doang. Budi. Singkat, jelas, sederhana. Konon kisahnya, nama gue yang sederhana terinspirasi dari kejadian waktu nyokap gue melahirkan gue. Proses bersalinnya sederhana banget. Ga sakit sama sekali. Bahkan saking lancarnya, nyokap gue sampai gak sadar kalo gue udah keluar. Muke gile.

Kata orang, nama biasanya membawa efek ke si pemilik nama. Tapi buat gue, sepertinya hal itu gak berlaku. Buktinya, nama gue sederhana tapi gue orangnya ribet. Entah kenapa otak gue suka ngelantur ke mana-mana lalu tiba-tiba bisa keluar ide-ide dan banyolan aneh.

Gue seorang mahasiswa semester 6 jurusan Psikologi di kampus Gajah Duduk. Hobi gue makan, jadi ga heran kalo gue rada gembul, berat 83 kilo, tinggi 175 cm, rambut kiwil. Selain makan, karena skill yang gue punya, gue juga hobi mengamati perilaku orang.

Kemampuan gue mengamati orang di atas rata-rata. Kemampuan ini gak ada hubungannya dengan jurusan Psikologi yang gue ambil, ini bakat bawaan. Gak perlu waktu lama, gue bisa tau kepribadian lo. Dan seakan lo terhipnotis sambil melek, gue bisa gali cerita terdalam hidup lo yang selama ini cuma Tuhan dan lo yang tau.

Bicara tentang mengamati, karena hobi gue makan, gue tentunya sering berada di tempat makan. Dan bicara tentang makan, gue sampai sekarang suka senyum-senyum sendiri kalau liat orang yang mau makan aja ribet. Menurut gue, masih banyak hal yang lebih penting untuk diribetin. Bosen makan ini, bosen makan itu, bosen makan di sini, bosen makan di situ, dan seterusnya. Buat gue, makan ya makan aja. Apapun asal bersih dan enak, sikat aja. Apa susahnya?

Buat gue, nikmatnya makanan kalo mau dikejar ga akan ada habisnya. Makan di sini, nyobain di situ, enak. Terus bertualang ke sana kemari, nyobain ini itu, mencari yang lebih enak lagi, lebih enak lagi. Sebuah pengejaran yang ga ada habisnya. Sama kayak kejar harta dan cari pacar yang paling cantik. Begitu udah jadi bini entar bosen. Liat bini orang lebih cakep, ngiler pengen nikah lagi. Harta udah punya ini, udah punya itu, liat ada mobil keluaran terbaru ngiler, liat ada iPhone terbaru ngiler, dan seterusnya. Menurut gue harus ada satu titik dimana kita berhenti ngiler, berhenti kejar ini dan kejar itu, lalu memutuskan untuk bersyukur untuk semua hal baik yang sudah kita miliki saat ini.

Sekilas dari luar, gue adalah orang yang serius dan misterius. Gue termasuk kategori bunglon yang entah kenapa dikasih bakat bisa menyesuaikan karakter dengan lingkungan. Jadi, karakter gue bisa dibilang hampir sama kayak relativitas kebenaran. Konsep yang hari ini benar, belum tentu besok masih benar. Konsep lo hari ini tentang diri gue, yang hari ini lo anggap benar, belum tentu besok masih benar. Hari ini mungkin lo bisa punya konsep bahwa gue adalah orang yang gampang bergaul. Besok-besok lo denger dari cerita temen-temen kampus gue, “Gile, si Budi itu orangnya serius banget. Ga gampang ngebaur sama yang lain.” Besok-besoknya lagi, lo bisa denger dari keluarga gue, “Si Budi itu orangnya nyleneh, aneh, suka bercanda. Suka kentut di meja makan..” Apapun itu, itu tetap gue.

Gue adalah orang yang percaya bahwa dunia ga selalu hitam dan putih. Ga semua hal bisa kita pandang sebagai benar atau salah. Ada yang namanya abu-abu, yang kebenaran atau kesalahannya itu tergantung dari sudut mana kita melihatnya.

Gue adalah orang yang percaya bahwa urusan abu-abu itu urusan Tuhan, ga ada gunanya gue komentar sana-sini dan mikirin capek-capek tentang hal itu. Ga ada gunanya. Mending gue nge-game, atau sekalian gue nyebur nangkepin lele di kolam tetangga. Lebih bermanfaat, karena abis itu lelenya bisa digoreng.

Orang-orang sering kritik dan ngajak debat tentang apakah sebenarnya karakter ‘bunglon’ gue ini benar atau salah. Kok seakan-akan gue munafik, pakai topeng berbeda untuk situasi yang berbeda. Buat gue, lo ya elo, gue ya gue, dia ya dia, tiap orang itu unik dan punya karakter yang beda-beda. Jadi, kenapa pusing dengan perbedaan?

Lembar demi lembar, lo bakal baca lebih banyak cerita tentang gue, tentang hal-hal yang berputar di otak gue, tentang hal-hal yang pernah gue rasain, tentang rutinitas gue, jam berapa gue mules tiap paginya, dll. Intinya, it’s all about me.

Jadi, silakan ambil cemilan lalu perbaiki posisi.

Enjoy.

  1. Chapter 1: Lele
  2. Lele: Part 2
Iklan

3 pemikiran pada “Prolog Novel (Proyek National Novel Writing Month)

    • Hahaha, entah, ini ngasal aja sebenernya. Cuma herannya waktu sabtu gw nulis ini yang ngebahas tentang mencukupkan diri, hari minggu juga ternyata khotbahnya tentang mencukupkan diri. Gw percaya itu bukan kebetulan 😀

  1. Budi ye… Ini Budi nama yg umum dipakai buat belajar baca.. Lo terkenal dikalangan anak TK.. Hhehhe.. Ini Budi, ini ibu Budi..
    Seperti apa kegiatan si Budi selanjutnya?? I’ll read next..

Ada tanggapan?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s