Chapter 1: Lele

Ada seorang cewek, namanya Dita, anak Psikologi juga, satu angkatan sama gue. Dita adalah seorang cewek yang menarik. Berdasarkan info-info yang beredar di kalangan cowok-cowok Psikologi, dia mantan kapten cheerleader di SMAnya dulu. Pantesan aja badannya bagus gitu, cantik pula. Wajar aja banyak cowok yang tergila-gila sama dia. Sayangnya gue rada males ngobrol dengan tipe cewek-cewek beginian. Biasanya gak nyambung kalo diajak ngobrol.

Siang itu, gue lagi makan di kantin kampus. Gue duduk di dekat pintu masuk kantin yang menghadap ke arah gedung kampus Psikologi. Cuaca hari itu sedang hujan. Gedung kantin yang tidak begitu besar itupun mendadak jadi penuh karena setelah makan siang, orang-orang ga langsung pergi melainkan menunggu hujan reda.

Dari jauh kelihatan Dita sedang berlari-lari kecil ke arah kantin. Begitu sampai, dia celingak-celinguk cari tempat. Ternyata hampir semua kursi sudah ditempati. Tadinya gue makan berdua sama Doni, tapi dia udah cabut duluan karena ada urusan.Tinggallah gue sendirian di meja itu.

Begitu liat kursi di depan gue kosong, dia langsung jalan ke arah meja gue. “Hai, di sini kosong?” katanya. Gue mengangguk pelan. Mendadak, lele di mulut gue langsung berasa lebih enak.

“Gue titip tas dulu ya? Mau pesen makan dulu.” ujarnya. Lagi-lagi gue ngangguk doang. Begitu balik, dia ternyata pesan lele. Naluri kelelean gue langsung bangkit.

Begitu dia duduk di kursi, gue langsung nyamber, “Suka makan lele juga?” Lalu dia menjawab dengan sebuah perkataan yang ga akan pernah gue lupain seumur hidup, “Suka? Lebih dari sekedar suka! Gue cinta mati sama lele.

gambar lele goreng

=============

Berangkat dari obrolan ngalor-ngidul tentang lele, gue mulai tertarik dengan cewek ini. Gak banyak cewek yang mau diajak ngobrol masalah sepele kayak gini, begitu pikiran gue waktu itu.

Setelah gw perhatikan kalau dia nyaman ngobrol sama gue, akhirnya gue memutuskan untuk menggali masa lalunya. Mulai dari pertanyaan soal jumlah mantan, paling lama pacaran berapa lama, ngobrol paling lama sama pacar di telpon berapa jam, dan kegiatan mancing-mancing kisah-kisah sepele lainnya.

Kombinasi dari kreativitas gue membuat pertanyaan yang ga ada matinya, kemampuan mendengar yang sangat terasah plus kemampuan membaca situasi yang merupakan bakat gue ternyata sekali lagi menunjukkan mantranya. Kombinasi ini ngebuat porsi dia ngomong sekitar 90% dan porsi gue ngomong sekitar 10%. Pernah ngalamin mati gaya karena ga ada lagi bahan omongan? Nah ketika orang udah sampai di porsi ngomong 90%, begitu dia berhenti ngomong, akan ada keheningan yang bikin ga enak, memaksa dia untuk terus ngomong, apapun itu, yang penting ngomong. Di situlah letak kunci penggalian gue. Gue sendiripun baru ngerti hal ini setelah belajar tentang psikologi. Jadi sebenernya, bukan gue yang menggali, tapi mereka yang memberikan informasi tentang diri mereka sendiri karena takut kehabisan bahan omongan.

Hasil penggalian pada subjek satu ini rada mengejutkan. Ternyata dia punya sebuah rahasia besar. Dia gak tertarik sama cowok. Dia cerita gimana dia ngerasa bangga banget waktu SMP dulu bisa gonta-ganti pacar tiap minggu. Dia cerita tentang masa-masa kelamnya di SMA, suka membolos dan pacaran sama anggota geng motor. Dia cerita tentang hari-hari di mana dia harus datang ke klinik aborsi sendirian karena dia diperkosa bergiliran oleh pacarnya dan teman-teman satu gengnya sehingga hamil. Waktu dia sudah mulai percaya lagi sama yang namanya cowok, ternyata cowoknya selingkuh.

Pengalaman itu terlalu menyakitkan untuk jiwanya. Hal itu mengubah kepribadian dan orientasi seksualnya. “Gua bersumpah ga akan lagi percaya sama yang namanya laki-laki,” ujarnya sambil menahan emosi.

“Dit, gue laki juga kali. Terus kenapa lo percaya ceritain rahasia ini ke gue? I bet you never tell anyone about this.”

Aha! Gue jadi ingat penjelasan dosen gue tentang cognitive dissonance. Ketika seseorang mengalami cognitive dissonance, dia akan merasa tidak nyaman karena ada semacam konflik di dalam dirinya. Cognitive dissonance dapat dijelaskan secara sederhana sebagai ketidaknyamanan yang timbul ketika seseorang baru saja melakukan suatu hal yang bertentangan dengan apa yang dikatakannya. Dalam hal ini, Dita bilang, dia ga akan percaya sama laki-laki lagi, padahal dia baru saja bercerita tentang rahasia terbesarnya pada seorang laki-laki, yaitu gue. Ketika seseorang mengalami cognitive dissonance, dia akan mencari alasan untuk membuat tindakan mereka masuk akal, semacam self-hypnosis. Orang yang mengalami cognitive dissonance akan menghipnotis diri mereka sendiri untuk percaya kepada alasan yang mereka buat sendiri. Kenapa? Supaya rasa ga nyaman itu hilang.

“Ya gatau kenapa, gw juga bingung Bud. Lo beda aja.” kata Dita secara ragu-ragu. Gue bertanya lagi, “Oke, jadi menurut lo, gue bisa dipercaya apa enggak?”

Setelah berpikir sebentar, dia akhirnya berkata dengan lebih yakin, “Bisa sih kayaknya..”

Ok, then trust me. Gue ga akan ceritain ini ke siapapun.” kataku sambil menatap matanya dalam-dalam.

Setelah memperhatikan mataku cukup lama, dia akhirnya berkata, “Oke..”

Dalam hati, gue bersyukur sekaligus mengutuk. Bersyukur karena satu orang lagi yang berhasil gue ubah. Mengumpat karena gue tau, kisah kita berdua ga akan berhenti sampai di sini aja..

Iklan

Ada tanggapan?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s