Lele: Part 2

Bagian sebelumnya:

=========

Pembicaraan kita di kantin waktu itu ga berhenti begitu aja setelah dia cerita tentang rahasianya. Karena gue perhatiin dia orang yang cukup stylish, gue ajak dia ngobrol tentang fashion. Gue waktu itu lagi menjabarkan pandangan gue tentang penggunaan kaos kaki yang kiri dan kanannya beda warna serta hubungannya dengan kepribadian pemakainya.

kaos kaki beda warna

“Menurut gue, orang-orang yang pakai kaos kaki beda warna antara kiri dan kanan itu adalah orang-orang yang berani tampil beda sekaligus filosofis banget. Kenapa gue bilang mereka itu berani tampil beda? Karena dimana-mana, orang pakai kaos kaki itu biasanya sepasang, warnanya sama, motifnya sama. Kalau pakai warna beda atau motif beda, pasti dianggap aneh karena bertentangan dengan kebiasaan. Orang-orang seperti mereka ini berani, mereka ga peduli sama pendapat orang lain. Kayak Lady Gaga gitu. Mendobrak pakem-pakem yang ada. Mereka melakukan apa yang mereka pandang bagus untuk dilakukan. Gue sangat mendukung orang-orang yang seperti itu, karena menurut gue, sah-sah aja kalau kita pakai kaos kaki yang beda warna. Kalau kita tinjau kaos kaki dari segi fungsi dan filosofi fashion, kaos kaki kan seb..”

Belum sempat gue menyelesaikan argumen, entah kesurupan apa, dia tiba-tiba motong,

“Bud, gimana kalo kita pacaran?”

Deg! Hampir aja lele dalam perut gue bangkit dari alam kubur dan berenang-renang dalam perut gue.

Melihat ekspresi gue yang kaget, Dita langsung menambahkan, “Jangan mikir yang enggak-enggak dulu kali. Ini pura-pura doang.. Lo gak tau rasanya jadi gua. Tiap hari tuh banyak banget yang kasih surat di dalam buku catatan,  trus banyak banget yang kirim bunga ke depan kos-kosan, sms puisi, macem-macemlah pokoknya.”

Kampret.. Ni cewek bener-bener sakit. Gue mengumpat dalam hati sambil menatap mukanya yang seakan ga ada dosa itu. Rupanya daritadi dia gak perhatiin gue ngomong, malah ngelantur sendiri.

Kalo dia cewek normal, jangankan jadi pacar, dia suruh gue kayang juga gue akan langsung ngangguk-ngangguk sampai kepala gue mau copot.

Gue mikir-mikir sejenak.

Kebangetan.. tadi kenceng banget ngomong gak bakal mau percaya sama cowok. Sekarang, baru kenal, dah minta gue lakuin macem-macem. Jangan-jangan isinya kepalanya itu bibit lele..

Gue tadinya mau ngelanjutin ngomel dalam hati lagi, tapi tiba-tiba sebuah ide keluar dari otak gue.

Wait.. kayaknya gue bisa ambil keuntungan dari posisi ini. Kalau dalam ranah marketing, ini kesempatan self-branding yang sangat bagus. Cowok-cowok akan pandang gue jago, skill kelas dewa, cewek-cewek juga pasti akan penasaran sama gue karena gue bisa jadian sama most wanted girl. Ya kan..

Eh? Tunggu, kalo mereka mikirnya malah gue bisa dapetin Dita karena gue main dukun gimana? Main santet dan sejenisnya. Mendadak bayangan gue tentang keberhasilan membangun imej gagah, tampan, dan keren langsung buyar gara-gara kebayang muka mbah dukun yang tampangnya mesum abis.

“Lo sakit ya?”, kata gue sambil ketawa-ketawa, “di mana-mana, dua orang yang baru pertama kali ketemu, baru ngobrol sekian jam, mana bisa langsung jadian walaupun itu bohong-bohongan. Lagian, alibinya gak cukup kuat juga kali. Anak-anak tau kalo kita jarang ngobrol. Masa tiba-tiba kita jadian?”

“Ya maksudnya gak sekarang banget juga kali Bud.. Nanti-nanti.. Hahaha, gimana menurut lo? Seru tuh kayaknya.”

Gue sekarang ada di posisi serba salah. Menurut gue, ide ini konyol, gak masuk akal, menggelikan. Karakter cewek inipun aneh dan absurd banget. Tapi di satu sisi, gue paling gak tega bikin orang kecewa, apalagi orang yang baru aja cerita tentang masalahnya. Seolah-olah, saat ini gue berasa jadi seorang customer service. Setelah menyelesaikan masalah pertama, biasanya seorang customer service yang baik akan bertanya, “Ada lagi yang bisa saya bantu?” Nah, begitu ternyata pelanggan masih ada masalah dan minta bantuan lagi, kalo ga bisa bantuin itu rasanya kayak bantuan kita yang pertama sia-sia, rasanya kayak gak bisa membantu orang menyelesaikan masalahnya secara tuntas.

Akhirnya dengan berat hati, gue menuruti jiwa customer service gue. Gue mengiyakan permintaanya. Selain karena memang gue ga mau merasa gak bisa bantu orang secara tuntas, gue tertarik untuk mengubah cewek ini jadi seorang cewek normal lagi. Jika satu dua kejadian pahit mampu mengubah dia secara dalam, gimana kalau gue kasih dia lima puluh kejadian menyenangkan? Apa dia kira-kira bisa berubah?

– bersambung –

Iklan

2 pemikiran pada “Lele: Part 2

Ada tanggapan?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s