Chapter 2: Energi

Sebelumnya:

=============

“Mungkin kini tak ada lagi matahari

Dan gemerisik rumput yang biasa menemani..

Juga tak ada lagi aroma teh

Yang telah dicelup sekian kali …”

Itu adalah potongan puisi yang dikirim oleh pengagum rahasia Dita. Entah anak jurusan mana, angkatan berapa, dia gak pernah ambil pusing. “Kayaknya udah rahasia umum banget kalau gua suka puisi. Tiap hari ada aja orang yang kirim-kirim puisi. Masih mending kalau bagus, ini mah kebanyakan puisi-puisi sampah”, begitu katanya.

Gue cuma menanggapi dengan senyum sekilas. Gue masih asik melanjutkan baca terusan dari puisi tadi. Mumpung dikasih kesempatan, gue mau puas-puasin liat puisi seperti apa yang dikirim oleh penggemar-penggemarnya Dita.

Potongan awal puisi yang barusan menurut gue lumayan menarik. Nuansa dari puisi tersebut kelam, seolah-olah merupakan curahan hati yang putus asa. Terasa sekali orang yang mengirim puisi ini benar-benar merasa sedih ketika hendak menghilang dan ga akan menghubungi lagi. Sudah menyerah rupanya.

Gue colek Dita yang duduk di kursi samping gue sambil nyodorin hpnya untuk minta komentar tentang puisi kelam tadi, “Kalau yang ini? Menurut lo sampah juga?”

Dia baca sekilas, “Enggak, yang ini lumayan.”

Sepintas, gue liat-liat lagi puisi-puisi lainnya. Ternyata memang bener kata Dita, banyak banget yang kirim-kirim puisi lewat SMS. Semuanya dari orang-orang yang gak dikenal, nomor-nomornya gak ada di kontak.

Siang itu, kita lagi berada di kafe dekat kampus. Gue daritadi masih sibuk otak-atik handphone Dita, sementara dia terlihat serius di depan laptop, ngerjain tugas psikologi organisasi.

Mata kuliah psikologi organisasi memang terkenal susah di kalangan anak-anak jurusan piskologi. Senior-senior sering komentar kalau tugas-tugasnya bikin repot. Tugas kali ini, tiap orang disuruh mengamati sebuah organisasi, mencari bagian mana dari organisasi tersebut yang masih bisa ditingkatkan (kultur, lingkungan, kebijakan-kebijakan yang dibuat, dll), serta  menyusun strategi untuk mengubah apa yang kurang sehingga jadi lebih baik lagi.

Gue yang memang berbakat di bidang manajemen perubahan, gak menemukan kesulitan yang berarti ketika mendapat tugas semacam ini. Dalam waktu seminggu, tugas gue udah kelar. Padahal kita dikasih waktu sampai sebulan.

Lain cerita sama Dita, daritadi mulutnya gak berhenti ngomel-ngomel, “Disangkanya skill kita udah satu level dengan konsultan kali ya? Masa disuruh bikin analisa rumit kayak gini. Abstrak banget. Mana bisa kita kerjain sendirian, paling gak ini butuh satu tim. Hari gini masih jaman aja dikasih tugas individu, padahal dosen-dosen di kampus lain itu lagi gembar-gembor tentang kolaborasi, kerjasama.”

Kalimatnya yang barusan bikin gue geleng-geleng, “Yaelah ta, namanya juga tugas. Kalau mau kuliah tapi ga mau tugas, itu aneh namanya. Sama aja kayak …” gue mikir sejenak, “kayak lo mau nikah, tapi ga mau punya suami.”

Dita mendadak ngakak, “Hahahaha, aneh banget perumpamaan lo Bud.. Eh, tapi ya bener dong. Gue kan emang ga mau punya suami”. Lalu dia nyengir lebar.

Ah iya, gue lupa kalau dia gak kayak cewek pada umumnya. Kalau bukan dia sendiri yang cerita sama gue waktu itu, walaupun gue digampar seribu kali, gue tetap ga akan percaya kalau cewek di samping gue ini gak suka cowok. Padahal hari itu dia kelihatan cewek banget dengan kaos warna pastel dan rambut digerai.

Wait.. tiba-tiba entah dari mana, terbit sebuah pemikiran.

Otak gue berputar. Gue berpikir keras, berusaha mengingat-ingat sebuah teori. Mendadak tadi gue punya semacam dugaan. Jangan-jangan sebenernya waktu itu ada orang lain yang mendorong dia sampai berubah kayak gini. Perubahan drastis ga akan berlangsung secara spontan. Konsep energi berlaku secara universal.

Gue mengendus sesuatu yang gak beres. Jangan-jangan ada orang yang membantu dia untuk melampaui energi aktivasi perubahan orientasi seksual. Gue lalu mulai berteori di dalam otak.

Energi aktivasi adalah sejumlah energi yang harus dikeluarkan sebelum sebuah kejadian dapat berlangsung secara kontinu. Coba perhatikan, butuh energi yang lebih besar untuk menggerakkan sebuah benda dari kondisi diam ke kondisi bergerak.

Konsep ini bisa kita amati di sekeliling kita tiap hari. Kalau kita perhatikan orang yang malas, kita akan menemukan fakta-fakta menarik. Misal, dia butuh waktu lama untuk sekedar bangkit dari kursinya dan mengambil makanan, padahal dia memang sudah lapar tapi malas bergerak. Level energinya seringkali ga sampai untuk melampaui energi aktivasi. Lain lagi dengan orang-orang rajin atau orang-orang yang terbiasa kerja. Level energi mereka tinggi, energi aktivasi sudah terlampaui. Seringkali bahkan kalau mereka disuruh diam, ga melakukan apa-apa, mereka akan gelisah dan mencari-cari pekerjaan.

kucing pemalas

Berdasarkan teori itu, gue lalu diam-diam baca SMS lain selain SMS puisi.

Nah, tahun lalu ternyata ada sebuah SMS mencurigakan.

-bersambung-

Iklan

Ada tanggapan?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s