Energi: Part 2

 “Iya, gw ngerti yang lo rasain ta.. Semua cowok memang brengsek. Makanya gw gak percaya lagi sama yang namanya cowok.”

Gue cek nama pengirimnya. Dito.

Kening gw berkerut seketika. Wait.. Dito? Becanda banget nih namanya. Gue jadi bingung. Namanya sih nama cowok, tapi kok ngomongin gak percaya sama yang namanya cowok? Gue yakin banget sebenernya yang kirim SMS ini cewek. Lagian, mana ada cowok yang ngomong gak percaya sama cowok kan? Kalo gitu, dia gak percaya sama dirinya sendiri dong?

Tapi kalo dia cewek, mana ada cewek namanya Dito? Masa ntar nama panjangnya Arandito Kusnaedi? Ditologi? Ditolagh mentah mentah? Ditolongh mala marah? Gue jadi geli sendiri.

Gue menduga-duga lagi. Jangan-jangan dia sebenernya memang cowok tadinya, tapi suka sama sesama jenis. Terus dia sekarang udah tobat karena banyak disakiti sama cowok. Atau sebenernya itu memang cewek tapi disamarkan aja namanya jadi Dito? Otak gue mulai serampangan.

Gue menghela nafas panjang lalu meletakkan handphone Dita ke meja. Sayangnya cuma itu satu-satunya SMS yang mencurigakan. Otak gue mendadak runyam gara-gara mikirin Dito yang ga jelas itu.

Gue inget-inget lagi cerita Dita, dia mulai merasa kalau dia agak beda pada pertengahan 2013 yaitu setelah dia berusaha menjalin hubungan lagi dengan cowok dan ternyata cowok itu selingkuh.

Gue mulai melakukan analisa. Kalau ditinjau dari teorinya, untuk kasus perubahan orientasi seksual, ada 4 tahap yang harus dilewati sebelum akhirnya perubahan orientasi itu benar-benar telah stabil yaitu tahap sensitisasi, tahap kebimbangan identitas, tahap asumsi identitas, dan tahap komitmen.

Pada tahap sensitisasi, seseorang mulai merasa bahwa perilakunya berbeda dengan rekan sesama jenis.

Pada tahap selanjutnya, yakni kebimbangan identitas, seseorang akan merasa bingung dengan identitas seksualnya. Untuk mengatasi kebingungan ini umumnya seseorang akan melakukan denial atau menolak dirinya sendiri. Fase denial ini dikenal dengan fase kritis. Denial ini sebenarnya adalah semacam mekanisme perlindungan diri, yaitu sebuah perlindungan yang aktif ketika kondisi psikologi seseorang berada dalam keadaan terancam. Perlindungan ini sendiri bisa hadir dalam berbagai cara, baik secara sadar maupun tidak sadar.

Pada fase denial ini, seseorang juga akan mengalami cognitive dissonance. Disonansi bisa terjadi karena merasa orientasinya bertentangan dengan norma-norma sosial. Ketika disonansi terjadi, maka rasanya sangat menyiksa. Rasa ini mendorong orang untuk melepaskan salah satu dari dua gagasan yang bertentangan itu. Jikalau pada saat itu penolakan-penolakan dari dalam dirinya sendiri serta faktor-faktor lain cukup kuat (misal faktor agama dan lingkungan sosial) maka ada kemungkinan untuk kembali ke identitas awal, Kalau ternyata dorongan perubahan orientasi jauh lebih besar, maka akan menuju tahapan selanjutnya yaitu asumsi identitas.

Pada tahapan asumsi identitas, seseorang sudah menerima perubahan yang terjadi namun belum sepenuhnya nyaman. Tahap terakhir adalah tahapan komitmen, dimana seseorang sudah sepenuhnya merasa nyaman dan bahagia dengan identitas seksualnya yang sekarang dan menganggap hal tersebut sebagai jalan hidupnya. Pada tahap komitmen, umumnya seseorang sudah memiliki pasangan sesama jenis atau memiliki rencana untuk menjalin hubungan dengan sesama jenis.

energi: part 2

Kalau ditinjau dari tahapannya, berarti Dita pada pertengahan 2013 sedang mengalami tahapan sensitisasi. Isi SMS itu juga tertanggal Juli 2013. Gue yakin ini bukan kebetulan. Dari nada SMSnya, Dito termasuk orang yang memberi daya dorong tambahan buat Dita sehingga dia bisa melampaui fase denial. Menyadari hal itu, identitas seksual Dito, ga lagi penting buat gue.

Gue menghela nafas agak panjang lalu menatap ke arah jendela di sebelah kiri, mencoba mengalihkan pikiran yang mumet dengan memandang orang-orang yang sibuk lalu lalang di trotoar jalan. Gue menghirup mochaccino latte yang dari tadi gak tersentuh, lalu menopangkan dagu di tangan sembari melamun.

Ah, rumit..

-bersambung-

Iklan

Ada tanggapan?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s