Chapter 3: Teori

Sebelumnya:

Tahapan sensitisasi, tahapan kebimbangan identitas, tahapan asumsi identitas, tahapan komitmen.. Semua tahapan-tahapan perubahan orientasi seksual itu berputar-putar acak di otak gue sembari gue menatap kosong ke luar jendela.Gue berusaha mencocokkan semua tahapan itu berdasarkan cerita Dita.

Ternyata gak semudah memahami teori, realitanya, kasus perubahan orientasi seksual yang terjadi seringkali tergolong kompleks. Banyak faktor yang harus dijadikan pertimbangan. Misal, faktor lingkungan sosial, faktor denial, faktor pemahaman agama, dan sebagainya.

Kalau dihubungkan dengan ranah ilmu pasti, seringkali dibutuhkan penyederhanaan untuk dapat memahami sesuatu yang kompleks, oleh karena itu dibutuhkan suatu model. Bisa jadi memang banyak sekali faktor yang mempengaruhi, tapi pasti ada faktor-faktor kunci yang pengaruhnya besar sekali terhadap hasil dari proses. Faktor-faktor kunci inilah yang kemudian coba dideteksi dan dituangkan dalam sebuah model matematika.

Sebuah permodelan yang kompleks bisa dipandang memuaskan jika dengan menggunakan model itu, kita bisa sekitar 95% yakin bahwa hasil yang dikeluarkan oleh model sama dengan hasil di dunia nyata. Faktor-faktor lain yang belum diketahui kemudian dituangkan ke dalam faktor error dan dinyatakan dengan lambang epsilon.

Gue jadi mikir, kalau model matematika aja susah untuk dibuat modelnya sampai 100% yakin, gimana perubahan psikologis yang lebih abstrak itu bisa dimodelkan?

Mikirin tentang model malah bikin otak gue makin mumet. Ilmu gue mentok sampai di sini. Hasil dari pemikiran gue barusan cuma pemahaman kenapa di beberapa kampus, termasuk kampus Gajah Duduk, jurusan psikologi dikategorikan sebagai jurusan IPA. Ternyata memang seorang psikolog dituntut untuk pemahaman-pemahaman dasar mengenai ilmu pasti juga selain pemahaman tentang ilmu-ilmu sosial.

macbook air

Gue memutuskan untuk menyudahi lamunan acak yang gak jelas ujungnya itu lalu mengalihkan pandangan dari jendela. Gue melirik ke arah Dita. Ternyata dia masih asik ngetik-ngetik di laptop. Sepintas gue perhatikan kalimat-kalimat yang diketiknya. Daritadi ternyata belum banyak kemajuan, masih berkutat di bagian penyusunan strategi, padahal pikiran gue daritadi udah melayang kemana-mana.

Gue diam-diam memperhatikan wajahnya yang serius menatap layar monitor. Selain ekspresi tertawa, ekspresi serius adalah salah satu ekspresi yang paling gue suka dari seorang cewek. Menurut gue, ekspresi cewek saat lagi serius membuat level cantiknya naik 10 kali lipat.

Dita yang memang udah dari sananya cantik, saat itu jadi 10 kali lebih cantik. Gue jadi berasa lagi liat bidadari dan mendadak pengen ngeluarin gombalan semacam ‘Kamu gak kenapa-kenapa? Gak ada yang luka kan? Abis surga kan tinggi banget, takutnya kamu luka waktu jatuh ke bumi’ Atau gombalan yang ngejiplak dari iklan, ‘Sori ya gak bisa nganterin kamu pulang, surga jauh.’

Gue cepat-cepat menggeleng-gelengkan kepala lalu memukul-mukul kepala pelan-pelan, Edan, mikir apa gue barusan?

Melihat gue mukulin kepala, Dita langsung komentar, “Ngapain lo mukulin kepala? Mending kepala lo itu dipake buat bantuin gua ngerjain tugas Bud..” Dia mikir sejenak, “Apa lo mau gue bantu pukulin kepala lo? Biar tambah gak jelas bentuknya”. Dita langsung mengangkat tangan kirinya tinggi-tinggi seolah pengen mukul beneran. Gue ketawa, “Hahaha. Gile, kepala gue bulet kali. Kepala lo tuh, kotak..”

Dan urusan kepala siapa yang kotak, bulet, elips, lonjong, dan segitiga itu gak selesai sampai 5 menit ke depan. Tipe obrolan-obrolan gak penting yang entah kenapa selalu bisa asik kalo diomongin bareng Dita.

– bersambung –

Iklan

Ada tanggapan?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s