Chapter 5: Tulisan

============

“Eh, nulis-nulis apaan lo?” kata gue sambil ngintip tulisan yang dibuat Dita di lembar belakang buku catatan gue. “Lo tau free-association writing Bud?” tanya Dita sambil terus nulis-nulis, kali ini dengan tulisan-tulisan yang lebih kecil. “Hmm.. belum pernah denger sih, cuma kalau dari namanya, itu semacam nulis bebas?”

Dita berhenti menulis sejenak, “Pernah nonton film Sixth Sense ga Bud?”. Gue menjawab dengan gelengan kepala. “Oke gini, gua tau teknik dan istilah free-association writing dari film Sixth Sense. Intinya sih lo nulis bebas tanpa perlu ada satu hal pun yang dipikirin di kepala lo, pokoknya tulis aja apa yang terlintas di kepala lo. Gak perlu perhatiin struktur, gak perlu perhatiin kata-kata lo jorok apa gak, gak perlu mikir apapun. Intinya cuma tulis tulis tulis, gak perlu mikir.”

“Wah, menarik. Terus gunanya free-association writing itu untuk apa?”

“Ya.. kalo gua sih buat iseng aja..” Dita diam sejenak, seolah sedang berpikir dan mempertimbangkan sesuatu, “sekaligus.. menganalisa pikiran-pikiran apa yang lagi ada di alam bawah sadar gua saat ini.”

chapter 5: tulisan

Dia lalu merobek kertas yang baru aja dia coret-coret sehingga lepas dari halaman belakang, lalu menaruh sobekan itu di dalam tas. Mendadak gue merasakan ada atmosfer yang beda setelah dia merobek kertas di halaman belakang buku gue. Sepanjang kelas, Dita jadi lebih diam. Matanya menatap ke depan tapi seringkali gak merespon saat gue ajak ngomong tentang apa yang lagi dibahas sama dosen di depan. Dia jadi lebih banyak melamun, seolah-olah perasaannya tiba-tiba terganggu sama apa yang baru aja dia tulis.

Gue gak bisa nebak apa yang ada di pikirannya saat itu, terutama karena kertas tadi udah dirobek. Sepintas gue melihat ke halaman belakang buku gue. Mendadak gue sadar akan satu hal. Gue langsung senyum-senyum sendiri sembari membayangkan rencana apa yang bakal gue lakuin saat udah balik ke kosan nanti.

Hari itu jadwal kuliah gue memang agak longgar. Cuma kuliah 2 jam di pagi hari, dari jam 7-9 pagi, dilanjut kuliah lagi nanti jam 1 siang. Dita langsung menghilang entah kemana waktu gue lagi ngobrol sama teman setelah kelas bubar. Aneh banget anak itu hari ini. Padahal sebelum dia coret-coret, tingkahnya masih normal-normal aja.

Gue teringat lagi akan rencana gue setelah selesai kuliah Psikologi Organisasi. Gue langsung jalan ke arah sepeda gue, lalu buru-buru goes sepeda buat balik ke kosan. Gue goes sepeda lebih kencang dari waktu berangkat tadi, saking kencangnya sampai kaki gue rasanya benar-benar sakit.

Begitu sampai di kosan, gue langsung naik ke lantai 2 di mana kamar kosan gue berada, lalu buru-buru masuk kamar. Setelah naik tangga, rasa sakit di kaki gue makin menjadi, tapi gue abaikan. Gue langsung ambil buku catatan gue yang tadi dicoret-coret oleh Dita lalu membuka halaman belakang.

Gue pegang permukaan halaman belakang, Terasa ada permukaan yang tidak rata, bekas guratan-guratan pena di halaman yang sebelumnya. Gue bongkar peralatan gambar, lalu mengambil pensil lunak dengan tipe 6B. Gue goreskan perlahan ke atas permukaan kertas di halaman belakang buku catatan gue. Secara perlahan, tulisan-tulisan itu muncul.

Gue bengong sendiri melihat kata-kata yang ditulis oleh Dita.

-bersambung-

======

Sebelumnya:

Iklan

Ada tanggapan?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s