Chapter 6: Sosial

chapter 6: sosial

Suasana toilet saat itu ramai karena berita tentang Dita menyebar begitu cepat. Tapi semua orang mendadak seperti orang bodoh, hanya bisa berdiri melongok-longok tanpa ada yang bertindak. Berkumpulnya mereka di sana malah membuat gue dan Doni kesulitan untuk membawa Dita keluar karena mereka menghalangi pintu keluar.

Saking kesalnya gue lalu teriak, “Woi, minggir! Kalian berdiri di sini tapi bengong doang! Ngaku-ngaku jurusan psikologi tapi pada kena bystander effect semua!”

Begitu mereka membuka jalan, gue segera berlalu dari hadapan mereka sambil menggendong Dita di punggung gue, diikuti Doni dari mengekor di belakang. Perasaan gue saat itu campur aduk.

Gue pikir dengan ngambil jurusan psikologi dan mengetahui tentang bystander effect akan membuat mereka lebih cepat tanggap ketika melihat ada orang yang butuh pertolongan. Ternyata sama aja..

Begitu sampai ke parkiran, gue minta Doni ikut bareng gue ke rumah sakit. Gue buru-buru ambil helm lalu naik ke motor sementara Dita diposisikan di tengah, antara gue dan Doni. Pagi itu kami resmi kayak cabe-cabean yang naik motor bertigaan. Untungnya, lalu lintas saat itu lumayan lancar. Gue langsung memacu motor gue secepat mungkin.

“Bud, bai bai apa yang lo bilang tadi?” kata Doni sambil teriak-teriak melawan angin.

Bystander effect! Masa lo gak tau? Itu kan diajarin di kelas psikologi sosial yang diajar Bu Tati.”

“Ho.. kayaknya waktu itu gw bolos deh Bud.”

“Yaudah nanti gue jelasin, sekarang bukan waktu yang tepat. Lo pegangin Dita yang bener supaya gak jatoh!”

Masih terselip sedikit rasa kecewa karena reaksi anak-anak jurusan psikologi yang pada bengong-bengong tadi.

Sembari mengendarai motor, gue kembali teringat penjelasan dosen gue tentang bystander effect serta contoh kasus yang diberikan. Beliau saat itu memutarkan sebuah video mencengangkan yang diambil dari Youtube. Video itu direkam oleh kamera pemantau arus lalu lintas di Tiongkok.

Kondisi jalan saat itu lumayan ramai. Ada seorang anak kecil yang sedang sendirian dan sedang menyebrang jalan. Tiba-tiba sebuah truk berkecepatan tinggi muncul dan menabrak anak itu. Sang supir sempat berhenti dan turun sebentar untuk mengecek keadaan sebelum akhirnya melarikan diri. Anak malang itu ditinggalkan tergeletak di jalanan dalam kondisi tak lagi bergerak. Entah saat itu sudah meninggal atau belum.

Hal yang lebih mencengangkan adalah kejadian setelah anak tersebut tertabrak, terhitung ada lebih dari 50 kendaraan lain yang melewati perempatan itu tapi semua pengendaranya pura-pura tidak melihat tubuh anak laki-laki tersebut. Ketika pengendara sepeda yang merupakan seorang ibu-ibu berhenti, barulah sang anak akhirnya mendapat pertolongan dan dilarikan ke rumah sakit.

Bystander effect adalah sebuah fenomena dimana seseorang tidak menawarkan atau memberikan bantuan apapun kepada korban ketika dia merasa bahwa nanti juga akan ada orang lain yang akan menolong. Makin ramai, justru akan makin tidak ada pertolongan yang diberikan karena semua orang saling menunggu.

Bystander effect atau bystander apathy memang mengerikan kalau disaksikan dalam kondisi ekstrim seperti kisah kecelakaan tadi. Seolah-olah semua pengendara yang melewati anak itu kehilangan hati nuraninya.

Konon, kata dosen gue, orang-orang yang udah tau tentang bystander effect ini akan lebih sigap membantu orang lain dalam situasi darurat. Mereka tidak akan menunggu-nunggu orang lain bertindak melainkan langsung ambil inisiatif untuk memberi pertolongan karena sudah tau akan seperti apa jadinya kalau mereka tidak bertindak.

Sayangnya hal itu, inisiatif cepat dalam memberikan pertolongan itu, hari ini ternyata gagal diberikan oleh orang-orang yang sudah belajar tentang bystander effect

– bersambung –

============

Sebelumnya:

Iklan

Ada tanggapan?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s