Sosial: Part 2

Hujan..

Tak terasa saat itu kami telah dua jam di rumah sakit. Hujan mulai turun secara perlahan. Mengubah langit yang tadinya biru jadi abu-abu.

Gue dan Doni dapat kabar dari dokter bahwa ternyata Dita hanya pingsan karena mengkonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan, bukan keracunan karbol seperti yang kami duga. Cuma butuh pemulihan sebentar sebelum nanti diijinkan pulang oleh dokter.

Gue gak tau dia dapat barang begituan dari mana, terlebih lagi kalau minum sampai pingsan artinya dia sebenarnya gak kuat minum tapi maksain. Dugaan gue, dia baru beberapa kali nyoba minum.

Setelah sekian lama gue nunggu, Dita akhirnya mulai bergerak dan membuka mata. Gue langsung ambil HP, pura-pura gak liat dan sibuk seolah sedang serius membaca sesuatu. Gue enggan mandangin mukanya waktu udah sadar. Dalam hati, sebenarnya gue lega karena gak terjadi sesuatu yang fatal, tapi sekaligus gue juga kesal. Belum pernah gue lari-lari sampai kayak gini buat seseorang. Belum pernah ada yang secacat ini sampai pagi-pagi udah mabuk dan pingsan di toilet kampus. Setelah gue ngalamin banyak hal pagi itu, gue sampai sekarang masih belum menentukan apa gue akan marah-marah atau gue akan ngomong dengan lembut ke dia dan menanyakan ada masalah apa, makanya gue lebih memilih untuk mengalihkan pandangan dari wajahnya.

“Bud..”

Gue mengalihkan pandangan dari HP lalu menatap Dita. Gak sepatah katapun keluar dari mulut gue saat itu. Gue menanti kata-kata lanjutan dari Dita

“Sori ya udah bikin lo repot..”

Dita ketek ini bisa juga bertingkah manis rupanya. Senyum gue akhirnya keluar, “Dah tau lo ini di mana? Rumah sakit men! Lain kali, kalo lo mau mabok, ajak-ajak gue, ntar gue tuker vodka lo sama kencing kuda peliharaan gue, biar lo kapok”

“Rese lo Bud. Emang lo pelihara kuda?”

“Pelihara. Gue pelihara kuda terbang. Gue pangeran dari khayangan”

“Ngaco..”

“Hahaha. Eh, by the way, lo tau gak, anak-anak kampus pada heboh liat lo berbusa di toilet, disangka lo bunuh diri”

“Yaelah, gua nyicip minum doang kali. Punya temen ketinggalan kemaren abis party di rumah gua, daripada dibuang, mau gua balikin tadinya ke yang punya. Karena pikiran lagi agak mumet tadi akhirnya gua cobain. Malah teler beneran”

“Hahaha.. makanya kalau gak kuat minum jangan minum”

“Kayak lo pernah aja Bud. Lo kan lebih cupu dari gua.”

“Oh, lo gak tau masa lalu gue..”

sosial: part 2

Mendadak obrolan kita terhenti. Ada sebuah keheningan ganjil yang tiba-tiba muncul. Setelah mikir sebentar, gue akhirnya sadar kalau gue baru aja keceplosan ngomong. Udah bisa ditebak, saat ini Dita lagi baru sadar bahwa selama ini sebenarnya dia udah banyak cerita tentang dirinya, tentang masa lalunya, tentang apa yang dia sukai, tentang apa yang gak dia sukai, dan semua-muanya, tapi dia gak tau apa-apa tentang gue. Gak cuma sama Dita tapi bahkan sama mantan-mantan pacar gue sekalipun, keheningan semacam ini sering terjadi, entah karena gue keceplosan seperti ini ataupun karena tiba-tiba mereka sadar sendiri.

Gue gak menyalahkan mereka sebenernya, karena memang dari sananya setelan gue adalah aktif mendengarkan, bukan aktif berbicara. Gue gak pernah masalah kalau siapapun cerita tentang apapun, baik itu penting atau enggak. Cuma, sepertinya jadi pendengar yang terlalu baik juga gak bagus. Ketika berhadapan dengan orang-orang seperti gue, orang akan terus terpancing untuk berbicara dan berbicara. Karena gue orangnya gampang penasaran, maka sebelum gue puas dengan detail dari apa yang diceritakan, gue akan terus bertanya dan bertanya sampai akhirnya gue puas. Nah, biasanya, karena lawan bicara gue merasa didengarkan dan dianggap penting karena gue aktif bertanya, ga jarang setelah selesai cerita sebuah kejadian, akan langsung berlanjut ke kisah kejadian berikutnya. Akhirnya ini jadi semacam lingkaran setan. Orang cerita –> gue penasaran, jadi banyak tanya –> merasa dihargai –> lanjut cerita lagi –> gue penasaran lagi –> lanjut cerita lagi. Begitu terus berputar-putar. Ujung-ujungnya, gue makin kenal semua tentang mereka, dan mereka gak sadar bahwa mereka gak tau apa-apa tentang gue, saking asiknya mereka cerita.

Makanya muncul keheningan seperti ini, sebagai pertanda kesadaran. Iya ya.. Budi itu seperti apa sebenarnya?

-bersambung –

============

Sebelumnya:

Iklan

Ada tanggapan?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s