Sosial: Part 3

“Emang.. masa lalu lo gimana Bud?”

Akhirnya beberapa patah kata keramat itu keluar juga. Kata-kata pertanyaan yang sering terdengar dari orang-orang yang baru sadar kalau ternyata mereka gak tau seperti apa masa lalu gue dan gak kenal siapa gue sebenarnya.

Seperti yang biasa gue lakukan kalau menghadapi pertanyaan semacam ini, gue pasang jurus diam. Buat gue, menceritakan masa lalu gak semudah ngeluarin uang dari dompet lalu beli permen di warung. Saat itu gue memilih untuk senyum sembari menyandarkan punggung ke kursi dan melipat tangan di depan dada. Gue tatap mata Dita lekat-lekat dengan pandangan yang seolah berkata, “Come on, do you really think i gonna tell you that story?

secret

Kami saling adu tatap selama beberapa puluh detik sebelum akhirnya gue memecah kesunyian dengan sebuah pertanyaan, “Dit, menurut lo setiap rumah di dunia butuh pintu apa enggak?”

Dita mengerutkan dahi, tanda dia lagi berpikir. Sebenernya, gue emang sengaja kasih pertanyaan supaya bisa liat raut wajahnya yang lagi serius. Lagian, daripada gue langsung kasih penjelasan panjang lebar, gue lebih suka mancing logika dengan pertanyaan-pertanyaan pembuka seperti ini, supaya lawan bicara lebih nangkep apa yang gue maksud dalam pembicaraan.

Dita : “Pintu? Ya butuhlah.. Jadi apa tuh rumah kalau gak ada pintu? Bisa-bisa ayam nyelonong masuk rumah. Atau, waktu gua lagi makan lele, tiba-tiba ada orang yang masuk ke rumah lalu ngerebut lele di piring gua.”
Budi : “Hahaha. Nah, itu ngerti..”
Dita : “Maksudnya ngerti apaan?”
Budi : Let me explain you. Kalau kita lihat secara fungsi, pintu itu gunanya untuk menutup sebuah ruangan. Kalau sisi filosofinya, pintu itu melambangkan ketidakpercayaan dan ketidakterbukaan. Terkadang sesuatu ditutupi bukan karena ga bagus untuk dilihat tapi supaya baik buat semua orang. Misal nih, lo punya duit, lo jejerin di jalan yang banyak dilewati orang, kira-kira bakal ilang gak duit lo?”
Dita : “Ya ilanglah”
Budi : “Kenapa?”
Dita : “Ya karena orang banyak lewat di situ. Walaupun tadinya gak ada niat, bisa jadi dia tergoda dan akhirnya ngambil. Kan kejahatan gak hanya timbul dari niat tapi juga karena ada kesempatan”
Budi : “Nah, sekarang gue tanya lagi. Kalau misalnya lo punya uang, lo simpan di dompet atau di bank, kira-kira bakal lebih aman gak?”
Dita : “Ya lebih aman dong”
Budi : “Kenapa?”
Dita : “Karena.. karena mereka ada di tempat tertutup dan diawasi?”
Budi : “Persis.. Jadi menurut lo duit bagusan simpan di dompet atau di jalan?”
Dita : “Ya di dompet..”
Budi : “Nah, sekarang bayangin kalau masa lalu gue itu kayak uang yang baru kita omongin tadi. Kata lo tadi, uang bagusan simpen di dompet. Jadi, masa lalu gue lebih bagus gue taroh di tengah jalan atau disimpan di dompet?”
Dita : “Tunggu tunggu.. Duit juga kan gak selamanya harus kita simpan terus di dompet. Ada saat-saat dimana kita harus kasih duit itu buat orang yang lebih membutuhkan. Begitu juga dengan masa lalu. Kalau memang kisah masa lalu lo bisa membawa kebaikan buat orang lain, kenapa harus disimpan sendiri?
Budi :  “Oke, tapi kalau kita ngasih duit sama orang, harus pakai pertimbangan kan?”
Dita :  “Betul”
Budi :  “Jadi, gue mempertimbangkan, buat sekarang, lebih baik duitnya masih gue simpan di dompet. Untuk segala sesuatu, ada masanya. Ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang. Ada waktu berdiam diri, ada waktu berbicara. Ada saatnya nanti gue ceritain semuanya..”

– bersambung –

=========

Sebelumnya:

Iklan

Ada tanggapan?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s