Sosial: Part 4

Setelah argumen final, akhirnya Dita bisa terima bahwa ada saatnya nanti gue akan cerita tentang masa lalu gue ke dia. Syukurlah tadi gue sempat ingat sama salah satu teknik untuk beragumen. Ternyata, di saat-saat seperti tadi, teknik itu berguna.

Teknik itu gue baca dari sebuah buku. Cara kerja teknik itu lumayan sederhana, gue menuntun Dita untuk berkata “ya” kepada perumpamaan dan logika-logika yang gue jabarkan. Jangan sampai keluar kata-kata tidak. Ketika seseorang terpancing untuk berkata tidak sebagai tanda bahwa dia tidak setuju dengan argumen kita, maka akan ada semacam ego untuk mempertahankan pendapatnya. Begitu seseorang bilang tidak, dia akan berusaha konsisten dan terus berusaha untuk berkata tidak.

Kadang, kalau ditelusuri, penyebab kebuntuan sebuah perdebatan atau diskusi hanyalah karena faktor ego. Padahal, kalau masing-masing mau duduk bersama dan gak saling menonjolkan ego masing-masing, sebuah kesepakatan bersama akan lebih mudah untuk dicapai.

social

Selain karakter dari kita sendiri yang bersedia mengalah atau gak menonjolkan ego, terkadang perlu juga sebuah teknik manajemen ego seperti yang baru aja gue lakukan kepada Dita. Gue soalnya agak khawatir keadaan emosinya belum cukup stabil untuk bahas-bahas masalah yang rumit. Kata-kata yang ditulis di free association writing aja dominan dengan kata-kata yang menunjukkan kemarahan dan gejala depresi. Gue takut setelah dia sadar bahwa sesungguhnya dia gak kenal gue, dia malah akan meledak-ledak lalu hubungan antara kita berdua jadi rusak.

Gue masih inget sampai sekarang, kata-kata bijak dari seorang teman gue, “Sebuah hubungan yang sehat adalah ketika masing-masing bebas jadi diri sendiri, gak ada yang perlu berkorban untuk puaskan ego masing-masing”. Menurut gue, kata-kata ini betul banget. Hubungan akan menjadi gak sehat kalau masing-masing sudah mulai menonjolkan egonya. Misal, “Gue tuntut lo buat terbuka juga sama gue, kayak gue terbuka sama lo. Kalau gak, gue marah!”. Untuk menghindari mencuatnya ego semacam inilah, teknik manajemen ego diperlukan. Untungnya gue berhasil, walaupun baru pernah satu kali liat demonstrasi langsung dari teknik ini.

Banyak orang akan berpendapat bahwa penerapan teknik semacam ini kurang baik karena cenderung seperti memanipulasi orang lain untuk mengikuti kemauan kita. Menurut pandangan gue, selama kita tau resiko dari apa yang kita lakukan dan memang niatnya baik, maka manipulasi seperti ini tetap diperlukan untuk situasi tertentu.

Menurut pengamatan gue, pemerintah Jepang dan Jerman pun sama-sama menerapkan manipulasi sosial untuk menanamkan sebuah kebudayaan pada masyarakatnya.

Hasilnya? Negara Jepang terkenal di seluruh dunia karena budaya bersihnya. Bahkan pernah salah satu media menyorot perilaku warga negara Jepang yang memungut sampah di sekitar mereka setelah selesai menonton pertandingan piala dunia di stadion. Mereka melakukan itu secara spontan dan tanpa ada yang memberi komando. Hal ini tak lepas dari manipulasi sosial yang dilakukan oleh pemerintah Jepang pada masyarakatnya. Kalau kita perhatikan, di tempat-tempat tertentu lumayan sulit ditemukan tempat sampah. Namun hal tersebut tidak malah membuat masyarakatnya buang sampah sembarangan. Budaya malu di Jepang sangat tinggi sehingga ketika seseorang sedang memegang sampah dan hendak membuangnya tapi lumayan sulit menemukan tempat sampah, dia akan terpaksa terus membawa sampah itu dengannya. Hal itu menurut mereka lebih baik dibanding meneriman malu akibat ditegur orang lain pada saat membuang sampah sembarangan.

Hal yang tak kalah menariknya juga dapat kita amati di negara Jerman. Buat orang-orang Jerman, sangat pantang kalau ngobrol atau buka sosial media saat jam bekerja. Buat mereka, jam bekerja adalah benar-benar waktu untuk bekerja sehingga mereka benar-benar produktif dan menghasilkan sebuah hasil kerja yang bermakna. Hal ini tidak lepas dari peran serta pemerintah yang sangat royal memberikan hari libur nasional pada masyarakatnya. Dalam setahun, ada hari libur selama 1,5 bulan yang dimandatkan oleh negara. Oleh karena hari libur yang banyak inilah, mereka dituntut untuk benar-benar serius selama masih jam kerja.

Pemikiran-pemikiran seperti inilah yang akhirnya membentuk karakter gue yang gak suka menghakimi orang. Gue banyak belajar bahwa ada banyak alasan kenapa manipulasi harus dilakukan. Alasannya bisa baik, bisa juga jahat. Tergantung niatnya. Selama niatnya gak gue ketahui secara pasti, tindakannya gue kategorikan di zona abu-abu yaitu zona yang gak jelas baik atau buruknya sebuah tindakan.

– bersambung –

=========

Sebelumnya:

Iklan

Ada tanggapan?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s