Chapter 7: Jalan

Hari masih siang, sekitar jam 12. Setelah keluar dari rumah sakit, karena laper, akhirnya gue dan Dita memutuskan untuk cari makan di sekitar rumah sakit. Untung waktu itu Doni gue suruh pulang duluan, jadi gak repot mau cari makanan di sekitar rumah sakit. Gue gak mau kayak cabe-cabean lagi yang bonceng tiga.

“Bud, cari lele siang-siang gini nemu gak ya?”

Omongan Dita yang terlampau polos buat gue gak kuat nahan ketawa, “Hahaha, dasar maniak lele! Jangan ngelawak ah. Siang-siang mana ada yang buka!”. Baru aja gue selesai ngomong, di depan samar-samar terlihat bendera lele alias tenda lesehan yang berkibar di kejauhan.

“Dit.. itu apaan?”

AYAM GORENG, BEBEK GORENG, PECEL LELE, NASI GORENG

Glek! Dunia pasti udah edan men. Lesehan buka siang-siang! Spontan gue berhenti di depan tenda itu. Wah, gak salah liat nih? Gue perhatiin lagi gambar kumis lele di situ. Gak salah lagi.. Ini gambar kumis yang familiar. Item, panjang, jarang-jarang. Persis! Ini kumis lele.

Gue langsung turun dari motor tanpa copot helm lalu ngintip ke dalam tenda. Lumayan rame ternyata. Gue dan Dita tatap-tatapan. “Bud, ini bukan tenda lele siluman kan? Gokil! Bisa-bisanya di dekat rumah sakit ada lesehan yang buka siang-siang gini.” Gue nyengir di balik helm, “Dit, tolong sadarkan gue dari mimpi yang terlalu indah ini.”

lele

5 menit kemudian, kita udah ada di dalam tenda. Duduk nunggu pesanan lele sembari ngobrol-ngobrol.

“Gimana kalo lain kali kita petualangan kuliner Dit? Cari lele di tempat-tempat gak terduga kayak di sini. Momen-momen bengongnya itu gak tergantikan banget kan?”

“Wah, boleh juga tuh Bud! Tapi barangkali harus siapin bekal juga kali ya? Jadi kalau gak nemu lele, kita cari tempat duduk terus makan bekal. Seru gak tuh?”

“Hahaha. Gue suka banget jiwa-jiwa gembel kayak lo Dit. Petualang abis! Ide bagus tuh. Tapi entar bekalnya lo yang masak ya?”

“Boleh, kenapa enggak? Entar gue masak lele juga. Jadi kalo gak nemu lele di tempat gak terduga, kita masih bisa makan lele di tempat yang gak terduga.”

“Hahahaha.. seru seru!”

Dalam hati, gue menyayangkan perempuan kayak Dita ini harus mengalami banyak kejadian yang gak enak dalam hidupnya. Dari segi tampang oke banget, kepribadian gokil, asik banget buat diajak ngobrol, bisa diajak gembel-gembelan yang artinya gak takut kalau diajak susah. Kurang apalagi coba?

Gue jadi teringat akan memori gue waktu lagi nonton infotainment. Waktu itu gue masih kecil, masih SMP. Berita saat itu tentang artis yang ternyata sempat beberapa lamanya harus mengalami kekerasan fisik akibat suaminya suka main tangan. Gue jadi gak habis pikir, ada ya laki-laki yang dulu bilangnya sayang, ngakunya cinta mati, sekarang malah pukul-pukul istrinya begitu? Hati gue langsung kasihan, apes banget cantik-cantik gitu malah nikah sama orang yang suka main tangan begitu.

Gue sebagai seorang laki-laki saat itu merasa marah dan kecewa dengan perlakuan sang suami yang mencoreng nama laki-laki. Sejak saat itu gue bertekad, siapapun yang jadi pacar gue nanti, gue akan buat dia jadi orang paling bahagia di dunia. Kalau bisa, dia bisa ketawa bareng gue tiap hari. Kalau bisa, gue buat dia senang tiap hari, gak masalah walaupun gue harus lakukan apapun untuk itu.

Setelah nonton infotainment itu pula, timbul sebuah kesadaran baru dalam diri gue. Sebenarnya semua orang diciptakan dalam keadaan beruntung. Tinggal bisa atau enggak dia menyadari keberuntungan dirinya.

Kayak misalnya Nick Vujicic, dia lahir tanpa tangan dan kaki. Dia sempat meratapi nasibnya, sempat berdoa juga pada Tuhan supaya tangan dan kakinya tumbuh, tapi teryata tidak tumbuh juga. Setelah melewati beberapa fase dalam hidupnya, akhirnya dia bisa menerima keberadaan dirinya dan memberi semangat bagi orang-orang lain, orang-orang yang bertubuh lengkap yang seringkali kurang bersyukur terhadap hidupnya. Dia mengubah kekurangan dirinya sebagai sebuah kelebihan. Dia sering kali menjatuhkan dirinya dan memberi penjelasan bahwa “Ketika kalian orang-orang normal jatuh, kalian bisa bangkit lagi. Tapi hal yang berbeda dengan saya. Merupakan hal yang mustahil bagi saya untuk bangkit lagi. Tapi jika saya mencoba lagi, lagi, dan lagi, maka peluang saya untuk bisa berdiri lagi akan tetap ada.” Dia mengajarkan kita pola pandang bahwa gak ada hal yang terlalu sulit untuk dilakukan, bahkan untuk sesuatu yang kelihatannya mustahil sekalipun.

Kadang kita yang bertubuh lengkap gak bisa punya pola pandang seperti ini. Selalu merasa diri kita kurang, gak bisa apa-apa, gak punya kelebihan. Gue sendiri seringkali malah jadi heran sama mahluk yang namanya perempuan. Kenapa perempuan seringkali membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain? Merasa kurang gemuk, kurang cantik, kurang kurus, kurang ini, kurang itu. Padahal menurut gue, cantik dan sempurnapun bukan jaminan untuk hidup senang. Boleh jadi memang seorang cewek akan banyak terima pujian karena dia cantik, tapi kecantikan itu juga akan menarik orang-orang kurang baik untuk datang mendekat. Banyak laki-laki yang hanya tertarik pada wanita karena fisik semata. Kecantikan akan membuat seorang wanita susah membedakan yang mana laki-laki yang mencintai dia apa adanya, dengan laki-laki yang mencintai dia ada apanya karena makin banyak orang yang pintar berpura-pura. Apalagi, seringkali perempuan lebih banyak melibatkan emosi ketimbang logika.

Bisa nangkep kan sekarang betapa beruntungnya sebenarnya perempuan yang kurang cantik? Mereka akan lebih mudah mendapatkan orang yang benar-benar serius kepadanya. Mereka akan lebih mudah menemukan seorang laki-laki yang mencintai mereka apa adanya, bukan karena mereka cantik, tapi karena karakter mereka yang memikat hati.

Ah, lagi-lagi gue berteori..

– bersambung –

=========

Sebelumnya:

Iklan

Ada tanggapan?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s