Jalan: Part 5

Entah karena kesal sama lele atau karena hal lain, begitu duduk dan pesan makanan, yang spontan gue pesan adalah ayam goreng, sohibnya lele goreng. Rasain lu lele! Gue demo gak makan lele!

Kalau lagi bingung begini, sikap kanak-kanak gue seringkali muncul. Kalau lagi bingung mau ngapain, gue seringkali menyalahkan hal lain yang gak berdaya buat gue salahkan, kayak lele ini misalnya. Padahal lele ini gak salah apa-apa sih. Cuma gue aja yang seringkali terlalu kreatif, sampai-sampai nyalahin lele yang gak berdosa ini.

Gue sadar kalau gue seringkali menyalahkan keadaan. Padahal kalau dipikir-pikir secara jernih, sebenernya gue begini mungkin karena gue dan Dita sama-sama suka makan lele. Karena kesamaan itu, akhirnya di siang yang gerimis itu, gue dan Dita jadi ngobrol ngalor-ngidul (kayak yang pernah gue ceritain di Chapter 1: Lele). Obrolan itu akhirnya membuka sebuah rahasia yang seharusnya gak gue ketahui. Rahasia yang pada akhirnya mengantarkan gue kepada kebingungan yang sekarang ini.

Gue sebenarnya dari dulu gak percaya sama yang namanya kebetulan. Karena gue gak percaya kebetulan, maka sudah seharusnya gue juga gak percaya kalau sama-sama suka makan lele ini adalah sebuah kebetulan. Gue percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup setiap orang, pasti ada tujuannya. Dan gue percaya, bahwa segala sesuatu yang terjadi itu selalu bertujuan untuk membuat hidup kita lebih baik. Cuma tinggal gimana kita meresponinya. Cara pandang yang benar akan menghasilkan respon yang benar.

Karena keyakinan itu, akhirnya gue seakan mendapat sebuah semangat dan harapan baru, walaupun masih gak tau harus ngapain dan bersikap seperti apa. Cukup percaya aja kalau semua akan baik-baik aja..

Gak perlu pikir yang rumit-rumit. Capek juga kadang-kadang. Ada kalanya semua usaha sudah kita kerahkan, tapi gak ketemu juga solusinya. Then, it’s time to relax. Waktunya santai, gak perlu terlalu ngotot sama hal yang gak bisa dipaksakan. Toh semua hal butuh proses, ya kan?

“Ya kan yam?”

 

ayam goreng

Gue senggol ayam goreng yang ada di hadapan gue saat ini pakai ujung garpu, seolah mengancam akan menusuknya dalam-dalam kalau gak setuju sama gue.

– bersambung –

=========

Sebelumnya:

Iklan

Ada tanggapan?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s